RSS

EVALUASI KTSP SEJARAH

05 Agu

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kehidupan manusia berdasarkan dimensi sejarah selalu berkaitan dengan waktu masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang Keadaan masa sekarang adalah kenyataan hasil masa lampau untuk menentukan masa yang akan datang. Kemampuan manusia untuk memainkan perannya pada masa kini dalam rangka mewujudkan masa depan yang dicita-citakan sangat ditentukan pemahaman jiwa dan semangat masa lampau dengan baik.

Sejarah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menelaah tentang asal-usul dan perkembangan serta peranan masyarakat di masa lampau berdasarkan metode dan metodologi tertentu. Terkait dengan pendidikan di sekolah dasar hingga sekolah menengah, pengetahuan masa lampau tersebut mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak dan kepribadian peserta didik. (Rufman I. Akbar: 2010.  http://rufmania.multiply.com/journal/item/ )

Sukaryanto (2007) mengatakan sejarah merupakan peristiwa yang dilakukan manusia yang dilakukan pada masa lampau (the past human event), terjadi hanya sekali (einmalig) dan tidak terulang kembali menjadi sejarah yang harus diketahui manusia pada masa berikutnya. Karena itu mempelajari sejarah menjadi penting agar dapat menentukan tindakan yang tepat guna melanjutkan masa depan yang sesuai dengan harapan masa lampau. (http://www.journal.unair.ac.id/Text.Pdf)

Pemahaman sejarah perlu dimiliki setiap orang sejak dini agar mengetahui dan memahami makna dari peristiwa masa lampau sehingga dapat digunakan sebagai landasan sikap dalam menghadapi kenyataan pada masa sekarang serta menentukan masa yang akan datang. Artinya sejarah perlu dipelajari sejak dini oleh setiap individu baik secara formal maupun nonformal, Keterkaitan individu dengan masyarakat atau bangsanya memerlukan terbentuknya kesadaran pentingnya sejarah terhadap persoalan kehidupan bersama seperti: nasionalisme, persatuan, solidaritas dan integritas nasional. Terwujudnya cita-cita suatu masyarakat atau bangsa sangat ditentukan oleh generasi penerus yang mampu memahami sejarah masyarakat atau bangsanya (Zaenal:2008- http://suciptoardi.wordpress.com)

Eksistensi bangsa termasuk bangsa Indonesia mutlak harus dipertahankan dalam kehidupan masyarakat bangsa dunia. Pembangunan karakter bangsa (national character building) menjadi alternatif dalam mewujudkan generasi bangsa yang memahami jati diri bangsanya secara komprehensif. Salah satu upaya pembangunan karakter bangsa dapat dilakukan melalui pendidikan sejarah yang mulai diberikan sejak pendidikan dasar. Pendidikan sejarah diharapkan dapat memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periode dalam upaya pembentukan sikap dan perilaku siswa. (Zaenal:2008/ http://suciptoardi.wordpress.com)

Perkembangan pembelajaran sejarah dalam sistem pendidikan nasional bangsa Indonesia belum dapat berjalan sesuai dengan harapan. Pembelajaran sejarah lebih ditujukan untuk mengetahui cerita sejarah belum pada substansi sikap sejarah. Seorang siswa memiliki pengetahuan sejarah tentang suatu peristiwa, tokoh-tokoh, waktu dan tempat terjadinya, tetapi tidak pernah tahu alasan dan semangat yang melatar belakangi peristiwa sejarah. Akibatnya pembelajaran sejarah menjadi kurang bermakna, bahkan ada yang mengatakan mengalami kegagalan.

Kurang bermaknanya pembelajaran sejarah perlu dicari akar permasalahannya dimulai dengan menelaah visi dan misi pembelajaran sejarah, materi atau bahan ajar sejarah, kompetensi guru, dan terakhir faktor siswa.

Persoalan-persoalan di atas perlu dicermati untuk mencari solusi yang tepat dalam upaya mengembalikan pembelajaran sejarah pada hakikat semula yaitu pembentukan sikap sejarah yang mampu diaplikasikan dalam menghadapi fenomena kehidupan masyarakat dan bangsa. Belajar sejarah menurut Haryono dalam zaenal 2008 bahwa siswa tidak diorientasikan untuk menghafal materi sejarah, melainkan pada tumbuhnya kesadaran sejarah. Pemahaman hakikat pembelajaran sejarah berarti diawali dengan memahami hakikat sejarah yang dapat diperoleh melalui pemahaman filsafat. (Zaenal:2008/ http://suciptoardi.wordpress.com)

Mata pelajaran sejarah merupakan bagian dari kurikulum pendidikan nasional diperlukan evaluasi guna mengetahui sejauh mana pembelajaran sejarah telah diserap oleh peserta didik. Menurut Hamalik, 2008:254) Kurikulum sebagai program pendidikan atau program belajar untuk siswa, memerlukan penilaian sebagai bahan balikan dan penyempurnaan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat, anak didik serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai suatu bagian dari sistem evaluasi pendidikan sekolah, secara fungsional evaluasi kurikulum juga merupakan bagian dari sistem kurikulum. Sistem kurikulum memiliki tiga fungsi pokok, yaitu pengembangan kurikulum, pelaksanaan kurikulum dan evaluasi.

Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma. Kurikulum yang tersentralisasi diubah menjadi terdesentralisasi dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang sering disingkat KTSP (Wasino dalam Aan Suradji 2009).

Jika dilihat dari perubahan-perubahan kurikulum pendidikan nasional, maka sejak kurikulum tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan direncanakan pada tahun 2004. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya (Vanstarkey, 2007)

Sejak tahun 2006 kurikulum pendidikan nasional menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Keunggulan KTSP, di antaranya adalah memberikan keleluasaan kepada guru dan sekolah untuk membuat kurikulum sendiri yang disesuaikan dengan keadaan siswa, keadaan sekolah, dan keadaan lingkungan. Sekolah bersama dengan komite sekolah dapat bersama-sama merumuskan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan, situasi, dan kondisi lingkungan sekolah. Sekolah dapat bermitra dengan stakeholder pendidikan, misalnya, dunia industri, kerajinan, pariwisata, petani, nelayan, organisasi profesi, dan sebagainya agar kurikulum yang dibuat oleh sekolah benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan (Ajisaka, 2007)

Pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan memberikan peluang yang sangat besar kepada guru untuk mengembangkan kreativitasnya. Pemerintah melalui Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) hanya membuat standarnya saja, yakni hanya menentukan standar kelulusan yang kemudian dijabarkan ke dalam  standar isi yang memuat bahan kajian, mata pelajaran, serta kegiatan belajar pembiasaan (Aan Suradji:2009/http://blog.unsri.ac.id/)

Selain hal tersebut, kompetensi (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar) dalam KTSP masih sangat umum dan perlu penjabaran dari guru di masing-masing Satuan Pendidikan. Penjabaran ini tidak hanya sebatas penentuan indikator, tetapi juga berkenaan dengan materi, metode, media pembelajaran, urut-urutan penyampaian materi, juga sepenuhnya diserahkan kepada guru. Dalam hal ini guru sangat memerlukan keterampilan untuk menyusun kurikulum. Jika guru tidak dapat membuat pembaharuan dalam penyusunan kurikulum sesuai mapelnya; maka sebagus dan semodern apapun kurikulumnya proses pembelajaran Sejarah akan kembali ke metode lama, yaitu lebih banyak menekankan pada ceramah. Bahkan ironisnya, ada guru/sekolah yang hanya meng “copy paste” kurikulum dari sekolah lain. Tentu saja hal ini merupakan sebuah kemunduran, karena masing-masing sekolah memiliki potensi dan karakteristik yang berbeda-beda.  (Aan Suradji, 2009/http://blog.unsri.ac.id/)

Kurikulum sebagai program pendidikan atau program belajar untuk siswa, memerlukan penilaian sebagai bahan balikan dan penyempurnaan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat, anak didik serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai suatu bagian dari sistem evaluasi pendidikan sekolah, secara fungsional evaluasi kurikulum juga merupakan bagian dari sistem kurikulum. Sistem kurikulum memiliki tiga fungsi pokok, yaitu pengembangan kurikulum, pelaksanaan kurikulum dan evaluasi (Hamalik, 2008: 254)

Pengertian evaluasi kurikulum menurut Hamid Hasan (2008:41) bahwa evaluasi kurikulum sebagai usaha sistematis mengumpulkan informasi mengenai suatu kurikulum untuk digunakan sebagai pertimbangan mengenai nilai dan arti dari kurikulum dalam suatu kontesks tertentu.

Begitu juga dalam penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan perlu diadakan evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah penerapan KTSP sudah dilaksanakan dengan baik atau belum. Dalam penerapan KTSP tersebut satuan pendidikan dijenjang pendidikan dasar dan menengah harus didasarkan pada standar nasional pendidikan yang sudah ditentukan.

Standar Nasional Pendidikan diperlukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. dengan adanya standar, dua orang guru tidak akan memberikan penafsiran yang berbeda terhadap kedalaman sebuah kompetensi dasar dalam kurikulum. Dalam proses pembelajaran guru akan berfokus pada hasil yang harus dicapai, tidak sekedar memenuhi target administratif. Adanya standar dan target yang harus dicapai juga dapat dapat meningkatkan komponen  input dan proses pembelajaran yang dilaksanakan akan lebih efektif sehingga hasilnya lebih optimal karena pembelajaran lebih berfokus. Dengan standar nasional pendidikan diharapkan terjadi berbagai perubahan dalam sistem dan layanan pendidikan yang mengarah pada peningkatan prestasi peserta didik dengan menentukan secara jelas tentang apa yang harus diajarkan (Mulyasa: 2009:18)

Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan. Standar Nasional Pendidikan (SNP) meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan (Mulyasa: 2009: 24)

Di tingkat pendidikan dasar hingga menengah, KTSP sendiri telah diterapkan sejak tahun 2006 hingga saat ini diberbagai jenjang pendidikan. Namun masih banyak satuan-satuan pendidikan yang belum melaksanakan KTSP sesuai dengan standar pendidikan yang telah ditetapkan..

Sekolah Menengah Atas adalah salah satu jenjang pendidikan yang mempunyai tugas untuk ikut mencerdaskan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya sehingga kurikulum yang diberikan pada jenjang Sekolah Menengah Atas seperti Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, geografi, Sejarah, físika dan lain-lain. Sebagai bagian dari kurikulum SMA, mata pelajaran Sejarah merupakan salah satu mata pelajaran dari rumpun Ilmu pengetahuan sosial perlu dilakukan evaluasi.

Evaluasi kurikulum memegang peranan penting baik dalam penetuan kebijaksanaan pendidikan pada umumnya maupun pada pengambilan keputusan dalam kurikulum. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijaksanaan pendidikan dan para pemegang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijaksanaan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan siswa, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya (Syaodih, 2008:172) Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Kurikulum juga dirancang dari tahap perencanaan, organisasi kemudian pelaksanaan dan akhirnya monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan mengetahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya.

Dalam evaluasi kurikulum terdapat beberapa model yang digunakan oleh evaluator yakni model evaluasi Kuantitatif dan model evaluasi Kualitatif. Model kuantitatif terdiri; model Tyler, model teoritik Tylor dan maguire, model Alkin, Model Countenance Stake, model CIPP. Sedangkan model evaluasi kualitatif terdiri dari model studi kasus, model iluminatif, model resposive (Hasan  1988:80-137)

Model Tyler dikemukakan oleh Tyler sendiri sebagai pengembangnya. Menurutnya evaluasi kurikulum sebenarnya hanya berhubungan  dengan evaluasi kurikulum sebagai hasil belajar. Evaluasi kurikulum sebagai rencana dinamakannya sebagai intermediate or premilinary  stages of evaluation ( Tyler, 1949: 104 dalam Hasan, 1988:84)

Selain itu terdapat model model teoritik Taylor dan maguire. Menurut Taylor dan Maguire, 1972:89 dalam Said Hamid Hasan, 1988: 91, mengemukakan tentang model evaluasi kurikulum. secara tegas ada dua kegiatan utama yang harus dilakukan oleh evaluator, pertama mengumpulkan data objektif yang dihasilkan dari berbagai sumber mengenai  komponen tujuan, lingkungan, presonalia, metode dan konten, serta  hasil belajar, baik hasil belajar langsung maupun  hasil belajar jangka panjang. Kedua, pengumpulan data  yang merupakan hasil pertimbangan individual terutama mengenai kualitas dari tujuan, masukan dan hasil belajar.

Model Pendekatan Sistem Alkin. Dalam model yang dinamakannya dengan pendekaan sistem (system Approach) inipin telah memasukan  variabel perhitungan ekonomi dalam modelnya. Alkin membagi model ini atas masukan, proses yang dinamakannya dengan istilah perantara (mediating) , dan keluaran (hasil) . tetapi dalam model ini Alkin juga mengenal adanya sistem internal  yang merupakan interaksi antar komponen yang langsung berhubungan dengan pendidikan, dan juga sistem luar (eksternal) yang mempunyai pengaruh dan dipengaruhi oleh pendidikan (Hasan, 1988: 97)

Model CIPP merupakan model yang berorientasi kepada pemegang keputusan. Model ini membagi evaluasi dalam empat macam, yaitu :  1)    Evaluasi konteks melayani keputusan perencanaan, yaitu membantu merencanakan pilihan keputusan, menentukan kebutuhan yang akan dicapai dan merumuskan tujuan program. 2)    Evaluasi masukan untuk keputusan strukturisasi yaitu menolong mengatur keputusan menentukan sumber-sumber yang tersedia, alternatif-alternatif yang diambil, rencana dan strategi untuk mencapai kebutuhan, serta prosedur kerja untuk mencapai tujuan yang dimaksud. 3)    Evaluasi proses melayani keputusan implementasi, yaitu membantu keputusan sampai sejauh mana program telah dilaksanakan.  4)    Evaluasi produk untuk melayani daur ulang keputusan.         Keunggulan model CIPP merupakan system kerja yang dinamis.

Keempat macam evaluasi tersebut divisualisasikan melalaui bentuk pendekatan dalam melakukan evaluasi yang sering digunakan yaitu pendekatan eksperimental, pendekatan yang berorientasi pada tujuan, yang berfokus pada keputusan, berorientasi pada pemakai dan pendekatan yang responsive yang berorientasi terhadap target keberhasilan dalam evaluasi. Jenis  konsep evaluasi diantaranya ; yaitu evaluasi formatif dan sumatif. Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan selama program itu berjalan untuk memberikan informasi yang berguna kepada pemimpin program untuk perbaikan program. Sedangkan evaluasi sumatif dilakukan pada akhir program untuk memberikan informasi konsumen tentang manfaat atau kegunaan program. Bentuk kegiatan dalam evaluasi adalah evaluasi internal dan eksternal. Evaluasi internal dilakukan oleh evaluator dari dalam proyek sedangkan eksternal dilakukan evaluator dari luar institusi (Fuddin:2008)

Pada study pendahuluan pelaksanaan KTSP  sejarah di SMA Swasta di Kota Pekalongan terdapat fenomena  menarik untuk diteliti yakni siswa kurang tertarik menerima materi pelajaran sejarah yang berdampak berkurangnya kesadaran siswa akan rasa nasionalisme.

Dengan latar belakang tersebut peneliti bermaksud melakukan evaluasi KTSP pada mata pelajaran Sejarah SMA Swasta di kota Pekalongan. Penelitian evaluasi kurikulum yang digunakan oleh peneliti adalah model CIPP. Keunikan model ini adalah pada setiap tipe evaluasi terkait pada perangkat pengambil keputusan (decission) yang menyangkut perencanaan dan operasional sebuah program. Keunggulan model CIPP memberikan suatu format evaluasi yang komprehensif pada setiap tahapan evaluasi yaitu tahap konteks, masukan, proses, dan produk (Fuddin:2008)

1.2 Rumusan masalah

Merujuk dari latar belakang masalah, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:

(1)         Bagaimanakah konteks dari pembelajaran Sejarah di SMA kota Pekalongan

(2)         Bagaimanakah Input dari pembelajaran Sejarah di SMA kota Pekalongan

(3)         Bagaimanakah Proses dari pembelajaran Sejarah di SMA kota Pekalongan

(4)         Bagaimanakah Produk dari pembelajaran Sejarah di SMA kota Pekalongan

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui:

(1)   Konteks/isi dari pembelajaran Sejarah di SMA kota Pekalongan

(2)   Input dari pembelajaran Sejarah di SMA kota Pekalongan

(3)   Proses dari pembelajaran Sejarah di SMA kota Pekalongan

(4)   Produk dari pembelajaran Sejarah di SMA kota Pekalongan

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat teoritis dan praktis sebagai berikut.

(1)   Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur dan memperkuat teori tentang tentang evaluasi pelaksanaan KTSP di Kota Pekalongan

(2)   Manfaat Praktis

(a)    Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada Dinas Pendidikan, MGMP, kepala sekolah tentang Pelaksanaan KTSP di Kota Pekalongan

(b)  Hasil penelitian ini diharapkan memberikan solusi positif bagi guru dalam meningkatkan Kegiatan Belajar Mengajar di kelas .

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Agustus 2010 in Pendidikan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: