RSS

MEDIA (alat bantu) PEMBELAJARAN

04 Des

Alat Bantu untuk memperoleh sumber bahan ajar, relevan dengan kebutuhan pencapaian kompetensi pembelajaran

Oleh: DWI KURNIA SAPUTRO PENDAHULUAN

Salah satu prioritas kebijakan umum pembangunan pendidikan di Indonesia adalah peningkatan mutu pendidikan. Dalam usaha untuk meningkatkan mutu pendidkan tersebut banyak faktor atau strategi yang digunakan. Salah satunya adalah peningkatan kualitas pembelajaran. Peningkatan kualitas pembelajaran dilakukan dari berbagai aspek variabel pembelajaran. Variabel pembelajaran yang terkait langsung dengan kualitas pembelajaran adalah faktor guru. Guru dikatakan sebagai seseorang yang mengelola kegiatan pembelajaran bagi para peserta didiknya. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran di dalam kelas menjadi wewenang dan tanggung jawab guru. Sumber bahan ajar apa saja yang akan dimanfaatkan di dalam kelas sepenuhnya berada di tangan guru. Metode pembelajaran yang bagaimana yang akan diterapkan di dalam kelas untuk menyajikan materi pelajaran tertentu juga menjadi tanggung jawab guru. Sekalipun sudah ada panduan tentang metode pembelajaran yang ditetapkan untuk digunakan guru dalam menyajikan materi pelajaran, namun tetap saja guru memiliki kewenangan untuk memilih dan menetapkan metode pembelajaran yang akan digunakannya di dalam kelas. (Siahaan,2008)http://www.e-dukasi.net/artikel/index.php?id=77 Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa, yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dapat berkembang dengan maksimal. Dengan belajar aktif, melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran, akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud, guru seyogyanya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. Kegiatan belajar mengajar dihubungkan dengan cara guru menyampaikan materi pelajaran agar dapat dipahami oleh siswa penerima materi yang disampaikan oleh guru tersebut. Sehingga kegiatan belajar siswa banyak dipengaruhi oleh kegiatan guru.(Sartono, 2009) Dalam kegiatan belajar mengajar, alat bantu pembelajaran adalah sesuatu yang dapat dijadikan sarana penghubung untuk mencapai pesan yang harus dicapai oleh siswa dalam kegiatan belajar. Alat bantu pembelajaran mempunyai peranan yang sangat penting. Sebab alat bantu pembelajaran membantu proses pembelajaran terutama yang berkaitan dengan indera pendengaran dan penglihatan. Adanya alat bantu pembelajaran bahkan dapat mempercepat proses pembelajaran siswa karena dapat membuat pemahaman murid lebih lebih cepat pula. 2. PENGERTIAN SUMBER BAHAN AJAR Sumber bahan ajar adalah “tempat” asal-usulnya bahan ajar diperoleh (misalnya buku kumpulan puisi/cerpen, dan sejenisnya) atau “tempat” yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar (misalnya alam sekitar dan manusia sumber). Ketersediaan buku kumpulan cerpen/puisi mengkondisikan siswa dapat membaca karya sastra untuk memulai proses apresiasi. Pada kesempatan yang lain, untuk menulis wacana deskripsi, misalnya, siswa dapat diajak mengamati objek di sekitar kelas atau sekolah. Objek di sekitar kelas atau sekolah itu merupakan sumber bahan ajar, yakni memungkinkan terjadi proses belajar menulis wacana deskripsi. Melalui kegiatan mengamati objek, siswa dapat berproses memunculkan gagasan untuk dituangkan dalam kalimat dan paragraf. (Suyono, 2008) Pemilihan sumber bahan ajar harus benar-benar didasarkan atas pertimbangan fungsi dan bukan sekedar untuk memenuhi gengsi. Artinya, kehadiran sumber bahan ajar harus benar-benar untuk dimanfaatkan secara optimal dalam rangka membantu siswa untuk belajar dengan sebaik-baiknya. Kehadiran sumber bahan ajar yang berupa film, misalnya, bukan sekedar untuk dinikmati begitu saja, tetapi lebih dari itu, film dimanfaatkan untuk belajar melakukan apresiasi film atau bahkan siswa mungkin dapat belajar bagaimana seorang sutradara bekerja dengan baik untuk menghasilkan film yang baik. Sumber bahan ajar dikatakan alat peraga jika hal tersebut fungsinya hanya sebagai alat bantu. Hal tersebut dikatakan media jika sumber belajar itu merupakan bagian yang integral dari seluruh kegiatan belajar”. (Suedi, 2009) Dalam mencari sumber bahan ajar, siswa dapat dilibatkan untuk mencarinya. Misalnya, siswa ditugasi untuk mencari koran, majalah, hasil penelitian, dsb. Hal ini sesuai dengan prinsip pembelajaran siswa aktif (CBSA). Berbagai sumber dapat kita gunakan untuk mendapatkan materi pembelajaran dari setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sumber-sumber dimaksud dapat disebutkan di bawah ini: a. Buku teks Buku teks yang diterbitkan oleh berbagai penerbit dapat dipilih untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Buku teks yang digunakan sebagai sumber bahan ajar untuk suatu jenis matapelajaran tidak harus hanya satu jenis, apa lagi hanya berasal dari satu pengarang atau penerbit. Gunakan sebanyak mungkin buku teks agar dapat diperoleh wawasan yang luas. b. Laporan hasil penelitian Laporan hasil penelitian yang diterbitkan oleh lembaga penelitian atau oleh para peneliti sangat berguna untuk mendapatkan sumber bahan ajar yang atual atau mutakhir. c. Jurnal (penerbitan hasil penelitian dan pemikiran ilmiah) Penerbitan berkala yang berisikan hasil penelitian atau hasil pemikiran sangat bermanfaat untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Jurnal-jurnal tersebut berisikan berbagai hasil penelitian dan pendapat dari para ahli di bidangnya masing-masing yang telah dikaji kebenarannya. d. Pakar bidang studi Pakar atau ahli bidang studi penting digunakan sebagai sumber bahan ajar. Pakar tadi dapat dimintai konsultasi mengenai kebenaran materi atau bahan ajar, ruang lingkup, kedalaman, urutan, dsb. e. Profesional Kalangan professional adalah orang-orang yang bekerja pada bidang tertentu. Kalangan perbankan misalnya tentu ahli di bidang ekonomi dan keuangan. Sehubungan dengan itu bahan ajar yang berkenaan dengan eknomi dan keuangan dapat ditanyakan pada orang-orang yang bekerja di perbankan. f. Buku kurikulum Buku kurikulm penting untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Karena berdasar kurikulum itulah standar kompetensi, kompetensi dasar dan materi bahan dapat ditemukan. Hanya saja materi yang tercantum dalam kurikulum hanya berisikan pokok-pokok materi. Gurulah yang harus menjabarkan materi pokok menjadi bahan ajar yang terperinci. g. Penerbitan berkala seperti harian, mingguan, dan bulanan. Penerbitan berkala seperti Koran banyak berisikan informasi yang berkenaan dengan bahan ajar suatu matapelajaran. Penyajian dalam koran-koran atau mingguan menggunakan bahasa popular yang mudah dipahami. Karena itu baik sekali apa bila penerbitan tersebut digunakan sebagai sumber bahan ajar. h. Internet Bahan ajar dapat pula diperoleh melalui jaringan internet. Di internet kita dapat memperoleh segala macam sumber bahan ajar. Bahkan satuan pelajaran harian untuk berbagai matapelajaran dapat kita peroleh melalui internet. Bahan tersebut dapat dicetak atau dikopi. i. Media audiovisual (TV, Video, VCD, kaset audio) Berbagai jenis media audiovisual berisikan pula bahan ajar untuk berbagai jenis mata pelajaran. Kita dapat mempelajari gunung berapi, kehidupan di laut, di hutan belantara melalui siaran televisi. j. Lingkungan ( alam, sosial, senibudaya, teknik, industri, ekonomi) Berbagai lingkungan seperti lingkungan alam, lingkungan social, lengkungan seni budaya, teknik, industri, dan lingkungan ekonomi dapat digunakan sebgai sumber bahan ajar. Untuk mempelajari abrasi atau penggerusan pantai, jenis pasir, gelombang pasang misalnya kita dapat menggunakan lingkungan alam berupa pantai sebagau sumber. (MGMP IPS Cimahi, 2007) Perlu diingat, dalam menyusun rencana pembelajaran berbasis kompetensi, buku-buku atau terbitan hanya merupakan bahan rujukan. Artinya, tidaklah tepat jika hanya menggantungkan pada buku teks sebagai satu-satunya sumber bahan ajar. Tidak tepat pula tindakan mengganti buku pelajaran pada setiap pergantian semester atau pergantian tahun. Buku-buku pelajaran atau buku teks yang ada perlu dipelajari untuk dipilih dan digunakan sebagai sumber yang relevan dengan materi yang telah dipilih untuk diajarkan. Mengajar bukanlah menyelesaikan satu buku, tetapi membantu siswa mencapai kompetensi. Karena itu, hendaknya guru menggunakan banyak sumber materi. Bagi guru, sumber utama untuk mendapatkan materi pembelajaran adalah buku teks dan buku penunjang yang lain. Sumber bahan ajar pada prinsipnya mencakup orang, isi, pesan, media, alat, teknik, dan latar lingkungan yang mengandung informasi dan dirancang atau dimanfaatkan untuk memfasilitasi seseorang belajar, sehingga memungkinkan peserta didik untuk belajar secara mandiri. Dari berbagai sumber bahan ajar yang ada dan mungkin dapat dikembangkan dalam pembelajaran pada garis besarnya dapat dikelompokkan sebagai berikut : a. Manusia/orang, yaitu orang yang menyampaikan pesan secara langsung; seperti guru, konselor, administrator, yang diniati secara khusus dan sengaja untuk kepentingan belajar. Di samping itu ada orang yang tidak diinginkan, tetapi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan proses belajar mengajar, misalnya penyuluh kesehatan, pimpinan perusahaan, pengurus koperasi, dan lain-lain. b. Bahan, yaitu sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran, seperti film pendidikan, peta grafik, buku paket dan sebagainya, yang biasa disebut media pengajaran. c. Lingkungan, yaitu ruang dan tempat dimana sumber-sumber dapat berinteraksi dengan peserta didik. Ruang dan tempat yang diamati secara sengaja untuk kepentingan belajar misalnya perpustakaan, ruang kelas, laboratorium, ruang micro teaching, dan sebagainya. Di samping itu ada pula ruang tidak diniati untuk kepentingan belajar tetapi dapat dimanfaatkan; misalnya museum, kebun binatang, kebun raya, candi, dan tempat-tempat beribadat. d. Alat dan peralatan, yaitu sumber bahan ajar untuk produksi dan atau memainkan sumber-sumber lain. Alat dan peralatan untuk produksi misalnya kamera untuk produksi foto dan tape recorder untuk rekaman. Sedang alat dan peralatan yang digunakan untuk memainkan sumber lain, misalnya proyektor film, pesawat TV, dan pesawat radio. e. Aktivitas yaitu sumber bahan ajar yang biasanya merupakan kombinasi antara suatu tehnik dengan sumber belajar lain untuk memudahkan belajar., misalnya pengajaran berprogam merupakan kombinasi antara tehnik penyajian bahan dengan buku. Contoh lainya seperti simulasi dan karyawisata. Dalam kegiatan pembelajaran, pemanfaatan sumber belajar seoptimal mungkin sangatlah penting, karena keefektifan proses pembelajaran ditentukan pula oleh kemampuan peserta didik dalam mendayagunakan sumber-sumber belajar. Pada umumnya terdapat dua cara memanfaatkan sumber belajar dalam pembelajaran di sekolah, yaitu: 1) membawa sumber belajar ke dalam kelas, misalnya membawa tape recorder kedalam kelas, dan memanggil orang/manusia sebagai sumber belajar 2) membawa kelas di lapangan dimana sumber belajar berada, misalnya museum, apabila kita mau menggunakan museum sebagai sumber belajar tidak mungkin membawa museum kedalam kelas, oleh karenanya kita harus mendatangi museum tersebut Pengalaman lapangan ini dapat secara sistematis melibatkan masyarakat dalam pengembangan progam, aktivitas dan evaluasi pembelajaran. Keterlibatan ini penting karena masyarakat adalah pemakai produk pendidikan dan dalam banyak kasus, sekaligus sebagai penyandang dana untuk pembangunan dan pengoperasian progam. Pengalaman lapangan dapat melibatkan tim guru dari berbagai disiplin dan antar disiplin, sehingga memungkinkan terkerahkannya kekuatan dan minat peserta didik terhadap pelaksanaan pembelajaran, dan terlindunginya guru terhadap rasa tidak senang peserta didik. 3. PENGERTIAN ALAT BANTU PEMBELAJARAN Pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa dan guru dengan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan kegiatan yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai positif dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran dapat melibatkan dua pihak yaitu siswa sebagai pembelajar dan guru sebagai fasilitator. Yang terpenting dalam pembelajaran, terjadinya proses belajar (learning process). (Hendrawan, 2009). Seseorang dikatakan berhasil dalam belajar jika memenuhi ciri-ciri berikut: a. menyadari jika sedang belajar. Siswa merasa bahwa dirinya sedang belajar, timbul dalam dirinya motivasi-motivasi untuk memiliki kompetensi/pengetahuan yang diharapkan sehingga tahapan-tahapan dalam belajar sampai kompetensi/pengetahuan itu dimiliki secara permanen (retensi) betul-betul disadari sepenuhnya. b. hasil belajar diperoleh dengan adanya proses. Kompetensi/pengetahuan diperoleh tidak secara spontanitas, instant, namun bertahap (sequensial). Seorang anak bisa berhitung tentu tidak diperoleh hanya dalam waktu sesaat namun berproses cukup lama, kemampuan menghitung diawali dengan membaca lalu kemampuan mengeja, mengenal angka, tanda baca dan kalimat matematika. Seseorang yang tiba-tiba memiliki kecakapan seperti berenang dengan kecepatan tinggi karena akibat doping, bukanlah hasil dari kegiatan belajar, namun efek dari obat atau zat kimia yang dikonsumsinya. c. Belajar membutuhkan interaksi, khususnya interaksi yang sifatnya manusiawi. Seorang siswa akan lebih cepat memiliki pengetahuan karena bantuan dari guru, pelatih ataupun instruktur. Dalam hal ini terjadi komunikasi dua arah antara siswa dan guru. Komunikasi terjadi karena ada alat bantu yang menjadi perantara antara siswa dan guru. Kualitas sebuah komunikasi ditunjang oleh penggunaan saluran dalam komunikasi tersebut. Karena pada dasarnya pembelajaran merupakan proses komunikasi, maka alat bantu yang digunakan adalah alat bantu pembelajaran. (Hendrawan, 2009) Alat bantu pembelajaran adalah alat-alat yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Alat bantu ini lebih sering disebut alat peraga karena berfungsi untuk membantu dan memperagakan sesuatu dalam proses kegiatan pembelajaran. Alat bantu ini disusun berdasarkan prinsip bahwa pengetahuan yang ada pada setiap manusia itu diterima atau ditangkap melalui panca indera. Semakin banyak indera yang digunakan untuk menerima sesuatu maka semakin banyak dan semakin jelas pula pengertian atau pengetahuan yang diperoleh. Dengan perkataan lain, alat bantu ini dimaksudkan untuk mengerahkan indera sebanyak mungkin kepada suatu objek sehingga mempermudah persepsi. (Notoatmojo, 2006) Seseorang atau masyarakat di dalam proses pendidikan dapat memperoleh pengalaman atau pengetahuan melalui berbagai macam alat bantupembelajaran. Tetapi masing-masing alat mempunyai intensitas yang berbeda-beda dalam membantu persepsi seseorang. Edgar Dale membagi alat bantu tersebut menjadi 11 macam dan sekaligus menggambarkan tingkat intensitas tiap-tiap alat tersebut dalam suatu kerucut yang kemudian dinamakan Kerucut Pengalaman Edgar Dale (Edgar Dale cone of experience). Kerucut pengalaman ini dianut secara luas untuk menentukan alat bantu apa yang sesuai agar siswa memperoleh pengalaman belajar secara mudah. Kerucut pengalaman yang dikemukakan oleh Edgar Dale itu memberikan gambaran bahwa pengalaman belajar yang diperoleh siswa dapat melalui proses perbuatan atau mengalami sendiri apa yang dipelajari, proses mengamati, dan mendengarkan melalui media tertentu dan proses mendengarkan melalui bahasa. Semakin konkret siswa mempelajari bahan pengajaran, contohnya melalui pengalaman langsung, maka semakin banyaklah pengalaman yang diperolehnya. Sebaliknya semakin abstrak siswa memperoleh pengalaman, contohnya hanya mengandalkan bahasa verbal, maka semakin sedikit pengalaman yang akan diperoleh siswa. (Goeroendeso, 2009) Gambar 1. Kerucut Pengalaman Dale Dari gambar tersebut dapat dilihat rentangan tingkat pengalaman dari yang bersifat langsung hingga ke pengalaman melalui simbol-simbol komunikasi, yang merentang dari yang bersifat kongkrit ke abstrak, dan tentunya memberikan implikasi tertentu terhadap pemilihan alat bantu pembelajaran dan sumber bahan ajar. 2.1. Manfaat Alat Bantu Pembelajaran Secara terperinci, manfaat alat bantu antara lain sebagai berikut : a. Menimbulkan minat siswa. b. Mencapai sasaran yang lebih banyak. c. Membantu mengatasi hambatan bahasa. d. Merangsang siswa untuk melaksanakan pesan-pesan dalam pembelajaran. e. Membantu siswa untuk belajar lebih banyak dan cepat. f. Merangsang siswa untuk meneruskan pesan-pesan yang diterima kepada orang lain. g. Mempermudah penyampaian bahan pembelajaran / informasi oleh para guru. h. Mempermudah penerimaan informasi oleh siswa. Seperti diuraikan diatas bahwa pengetahuan yang ada pada seseorang diterima melalui indera. Menurut penelitian para ahli indera, yang paling banyak menyalurkan pengetahuan ke dalam otak adalah mata. Kurang lebih 75% sampai 87% dari pengetahuan manusia diperoleh / disalurkan melalui mata. Sedangkan 13% sampai 25% lainnya tersalur melalui indera yang lain. Dari sini dapat disimpulkan bahwa alat-alat visual lebih mempermudah cara penyampaian dan penerimaan informasi atau bahan pembelajaran. i. Mendorong keinginan orang untuk mengetahui kemudian lebih mendalami dan akhirnya memberikan pengertian yang lebih baik. Orang yang melihat sesuatu yang memang diperlukan akan menimbulkan perhatiaannya. Dan apa yang dilihat dengan penuh perhatian akan memberikan pengertian baru baginya yang merupakan pendorong untuk melakukan / memakai sesuatu yang baru tersebut. j. Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh. Didalam menerima sesuatu yang baru, manusia mempunyai kecenderungan untuk melupakan atau lupa. Untuk mengatasi hal tersebut, AVA akan membantu menegakkan pengetahuan-pengetahuan yang telah diterima oleh manusia sehingga apa yang diterima akan lebih lama tinggal / disimpan didalam ingatan.(Notoatmojo, 2006) 2.2. Macam-Macam Alat Bantu Pembelajaran Pada garis besarnya, hanya ada 3 macam alat bantu pembelajaran: 2.2.1. Alat Bantu Lihat (Visual Aids) Alat ini berguna didalam membantu menstimulasi indera mata (penglihatan) pada waktu terjadinya proses pembelajaran. Alat ini ada 2 bentuk : a. Alat yang diproyeksikan, misalnya slide, film, film strip, dan sebagainya. b. Alat-alat yang tidak diproyeksikan : – 2 dimensi, gambar, peta, bagan, dan sebagainya. – 3 dimensi misal bola dunia, boneka, dan sebagainya. 3.2.2. Alat-Alat Bantu Dengar (Audio Aids) Adalah alat yang dapat membantu menstimulasi indera pendengar pada waktu proses penyampaian bahan pembelajaran / pengajaran. Misalnya piringan hitam, radio, pita suara, dan sebagainya. 3.2.3. Alat Bantu Lihat-Dengar Seperti televisi dan video cassette. Alat-alat bantu pembelajaran ini lebih dikenal dengan Audio Visual Aids (AVA). Alat bantu terbagai menjadi dua, yaitu opsional dan esensial. Alat bantu opsional atau pengayaan. Alat dapat dipilih guru sesuai kehendaknya sendiri asalkan cukup waktu dan biaya. Alat bantu esensial (diperlukan atau harus digunakan). Alat ini harus digunakan oleh guru untuk membantu pelajar dalam mencapai tujuan-tujuan belajar dari tugas yang diberikan. Alat jga memerlukan waktu dan biaya. Suedi (2009). 3.3. Peran Alat Bantu dalam Pembelajaran 4. PENCAPAIAN KOMPETENSI PEMBELAJARAN Perencanaan proses pembelajaran meliputi; silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Secara umum, pengorganisasian prosedur pembelajaran dikelompokkan menjadi tiga kegiatan utama, yaitu kegiatan awal (pre-activities), kegiatan inti (main activities), dan kegiatan akhir (post-activities). Kegiatan awal mempunyai dua tujuan pokok, yaitu memotivasi siswa belajar (motivating students to learn) dan memusatkan perhatian siswa pada tujuan belajar selanjutnya atau materi-materi pelajaran yang akan dipelajari selanjutnya (focusing learning). Kegiatan belajar siswa dapat dimotivasi dengan berbagai bentuk kegiatan belajar, antara lain bentuk cerita, tanya jawab, peragaan atau demonstrasi, dan lain-lain. Pemusatan belajar siswa umumnya dilakukan dengan menyampaikan tujuan atau sasaran kegiatan. Kegiatan inti mempunyai tujuan untuk membangun kompetensi. Setiap kompetensi atau tujuan pembelajaran yang hendak dicapai disiapkan satu atau serangkaian kegiatan belajar yang memfasilitasi siswa untuk mencapai kompetensi atau tujuan belajar tersebut. Prosedur belajar maupun sumber bahan ajar yang disiapkan untuk memandu siswa belajar harus menjamin pencapaian kompetensi atau tujuan belajar. Kegiatan utama pembelajaran secara keseluruahn diuraikan dalam kegiatan inti pembelajaran. Kegiatan akhir mempunyai dua tujuan pokok, yaitu memberikan penguatan (strengthening) dan pengayaan materi (enrichment). Penguatan belajar diberikan apabila hasil-hasil yang dicapai dalam pembelajaran belum optimal. Sedangkan kegiatan pengayaan diberikan apabila hasil-hasil yang dicapai sudah optimal. Kegiatan akhir yang berupa penguatan dan pengayaan pelajaran harus dipersiapkan lebih awal oleh guru sebagai bagian dari bahan ajar. Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami, memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Dengan perkataan lain, ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya, yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). Inilah hakikat pembelajaran, yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain, karena ia telah memiliki kompetensi, kecakapan hidup. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami. (Suherman,2008) Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman, penalaran, aplikasi, analisis, observasi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, koneksi, komunikasi, inkuiri, hipotesis, konjektur, generalisasi, kreativitas, pemecahan masalah). Kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri, pengelolaan suasana hati, pengendalian impulsi, motivasi aktivitas positif, empati), dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi, presentasi, prilaku). (Suherman, 2008) Kegiatan pembelajaran diciptakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Kegiatan pembelajaran disiapkan untuk membantu siswa mencapai kompetensi pembelajaran. Ketercapaian kompetensi pembelajaran dilihat dari seberapa banyak indikator yang ditetapkan agar bisa dicapai siswa. Kegiatan pembelajaran yang bermakna akan berdampak luas kepada pemahaman siswa, antara lain mereka bukan hanya hafal dan paham terhadap sesuatu yang dipelajari tetapi juga dapat menerapkan dan mentransfer untuk kepentingan lain dalam kehidupannya.(Suyono, 2008) Di dalam Silabus terdapat “indikator”. Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, satuan pendidikan, dan potensi daerah. Indikator digunakan sebagai dasar penentuan strategi dan pengembangan instrumen penilaian. Setiap Kompetensi Dasar dikembangkan menjadi beberapa indikator, kecuali Kompetensi Dasar tersebut telah operasional; dan terukur. Rumusan indikator harus operasional dan terukur. Kata kerja pada indikator harus lebih rendah atau minimal setara dengan kata kerja pada Standar Kompetensi/ Kompetensi Dasar Indikator harus betul-betul merupakan wakil dari Kompetensi Dasar dalam pengertian bila semua indicator tercapai, Kompetensi Dasar juga akan tercapai. Indikator yang tidak mewakili Kompetensi Dasar, meskipun jumlahnya banyak dan semuanya telah tercapai, Kompetensi Dasar belum tercapai. Sedangkan Sumber belajar/Sumber bahan ajar dalam silabus adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi. (Subrata, 2009) 5. ALAT BANTU UNTUK MEMPEROLEH SUMBER BAHAN AJAR Saat ini sumber bahan ajar dapat diperoleh secara mudah. Dengan alat Bantu yang ada pembelajaran akan lebih berbobot dan memiliki kualitas yang lebih. Bukti otentik terjadinya pembelajaran dapat dicermati dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang disusun dan implementasinya yang dilaksanakan oleh setiap guru mata pelajaran di sekolah. Contohnya, RPP yang mengintegrasikan TIK di dalam pembelajaran dapat disusun melalui 2 (dua) pendekatan, yaitu pendekatan idealis dan pendekatan pragmatis. Pertama, Pendekatan Idealis dapat dimulai dengan menentukan topik, kemudian menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai; dan menentukan aktifitas pembelajaran dengan memanfaatkan TIK (seperti modul, LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, atau alat komunikasi sinkronous dan asinkronous lainnya) yang relevan untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Kedua, Pendekatan Pragmatis dapat diawali dengan mengidentifikasi TIK (seperti buku, modul, LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, atau alat komunikasi sinkronous dan asinkronous lainnya) yang ada atau mungkin bisa dilakukan atau digunakan, kemudian memilih topik-topik apa yang bisa didukung oleh keberadaan TIK tersebut, dan diakhiri dengan merencanakan strategi pembelajaran yang relevan untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator capaian hasil belajar dari topik pelajaran tersebut. Adapun strategi yang dapat dipilih sesuai dengan kedua pendekatan tersebut adalah strategi: Resources-based learning (pembelajaran berbasis sumber daya), Case/problem-based learning (pembelajaran berbasis permasalahan/kasus sehari-hari), Simulation-based learning (pembelajaran berbasis simulasi), dan Colaborative-based learning (pembelajaran berbasis kolaborasi). Peran TVE & Jardiknas sebagai sumber bahan ajar dapat diakses setiap masyarakat Indonesia ke sumber-sumber pengetahuan dan informasi pendidikan. Oleh karena itulah Depdiknas berinovasi melalui penyelenggaraan siaran TV Edukasi yang diresmikan pada tahun 2004 ini merupakan televisi yang mengkhususkan pada siaran pendidikan, termasuk program pembelajaran. Kemudian pada tahun 2006, Depdiknas menggelar Jardiknas (Jejaring Pendidikan Nasional) yang merupakan jaringan TIK nasional terbesar yang dimanfaatkan oleh Depdiknas untuk keperluan komunikasi data administrasi, konten pembelajaran, serta informasi dan kebijakan pendidikan. Setiap hari pengguna internet berselancar di dunia maya hanya untuk mencari konten yang benar-benar diinginkannya secara instan. Baik didorong oleh rasa keingintahuan terhadap suatu fenomena maupun sekedar membuktikan sebuah informasi. Salah satu konten yang cukup menyita perhatian publik akhir-akhir ini adalah program buku murah yang dikemas di dalam aplikasi Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang dapat diakses melalui: bse.depdiknas.go.id. BSE merupakan langkah reformasi di bidang perbukuan dimana Depdiknas telah membeli Hak Cipta buku-buku teks pelajaran SD, SMP, SMA, dan SMK tersebut. Softcopy buku-buku teks pelajaran tersebut didistribusikan melalui web BSE agar guru atau masyarakat dapat mengakses,mengunduh, mencetak, mendistribusikan, atau menjualnya sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi) dimana saja dan kapan saja. Selain BSE versi Online yang dapat diakses melalui internet, Depdiknas juga telah menyediakan dan mendistribusikan BSE versi Offline yang dikemas di dalam cakram padat DVD. Demikian strategi pengembangan pembelajaran berbasis TIK yang terus-menerus dikembangkan dan didukung oleh Depdiknas melalui sejumlah inisiatif dan inovasi di bidang teknologi pembelajaran, teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Kita dapat berharap suatu saat nanti TVE dan Jardiknas dapat menjadi Pusat Konten Pembelajaran yang dapat diakses dimana saja dan kapan saja melalui koneksi Kabel, Nirkabel & Satelit. (Adimphrana, 2008) a. Berdasarkan Jenis Pendidikan (umum, khusus atau kejuruan) b. Berdasarkan Jenjang pendidikan (dasar, menengah, tinggi) c. Berdasarkan Sistem pendidikan (regular, jarak jauh) Aplikasi komputer dalam bidang pembelajaran memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara individual (individual learning). Pemakai komputer atau user dapat melakukan interaksi langsung dengan sumber informasi. Perkembangan teknologi komputer jaringan (computer network/Internert) saat ini telah memungkinkan pemakainya melakukan interaksi dalam memperoleh pengetahuan dan informasi yang diinginkan. Berbagai bentuk interaksi pembelajaran dapat berlangsung dengan tersedianya alat bantu komputer. Beberapa lembaga pendidikan jarak jauh di sejumlah negara yang telah maju memanfaatkan alat bantu ini sebagai sarana interaksi. Pemanfaatan ini didasarkan pada kemampuan yang dimiliki oleh komputer dalam memberikan umpan balik (feedback) yang segera kepada pemakainya. Contoh penggunaan internet ini adalah digunakan oleh Universitas terbuka dalam penyelenggaraan Universitas Terbuka Jarak Jauh disamping mahasiswa mendapat modul untuk proses belajar mengajar dia juga dapat mengakses informasi melalui internet. Kuliah lewat Internet oleh IBUteledukasi.com. Universitas virtual IBUteledukasi ini didirikan oleh Adi sasono, Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) bekerjasama dengan Universitas Tun Abdul Razak (Unitar) Malaysia yang sudah lebih dulu menyelenggarakan perkuliahan online. Pada pendidikan jarak jauh Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. Interaksi pembelajaran pada program Magister Manajemen Rumah Sakit dan Magister Manajemen Pelayanan Kesehatan dilakukan melalui surat elektronik (e-mail) mahasiswa harus menjawab 75% pertanyaan melalui e-mail. Contoh lain pemanfaatan jaringan komputer dilakukan di Universitas Indonesia (UI). Sejak tahun 1994 UI telah mengembangkan infrastruktur informasi yang dikenal dengan nama Jaringan Universitas Indonesia Terpadu (JUITA). JUITA menghubungkan sebelas fakultas dan lembaga-lembaga penting yang ada di UI dengan menggunakan jaringan serat optic (Sartono, 2009) d. Berdasarkan Struktur sistem pendidikannya (individual, berkelompok) d. Berdasarkan Subjek pembelajaran atau bidang minat (misal, ekonomi, sosial, sains, budaya, bahasa, dst). e. Berdasarkan Kompetensi atau tujuan pembelajaran yang hendak dicapai serta indikator pencapaiannya (tingkat kesulitan capaian kompetensi melalui indicator yang dikembangkan untuk keperluan tersebut) Pengadaan media TIK untuk kegiatan pembelajaran bisa saja berasal dari sekolah itu sendiri atau dari pihak lain. Pada dasarnya tidak menjadi masalah dari manapun asalnya media TIK yang sampai di sekolah. Yang justru lebih penting lagi adalah bagaimana menyiasati agar media TIK yang telah tersedia di sekolah dapat dioptimalkan pemanfaatannya bagi kepentingan pembelajaran peserta didik. Beberapa contoh media TIK yang mulai banyak tersedia di pasaran adalah CD/kaset audio, VCD, dan internet. Sehubungan dengan semakin maraknya ketersediaan media TIK untuk kegiatan pembelajaran, baik di pasaran, yang diadakan sekolah sendiri maupun yang diterima sekolah dari berbagai pihak, maka sebelum memanfaatkannya di dalam kelas, Manakala di sekolah telah tersedia perangkat komputer dan akses ke internet, maka guru dapat menugaskan para peserta didiknya untuk mengunjungi websites yang dimaksudkan. Tidak hanya sekedar mengunjungi websites tertentu saja, tetapi para peserta didik juga ditugaskan untuk mendiskusikan materi pelajaran yang dikemas di dalamnya. Mengakses websites tertentu yang ditugaskan guru dapat saja dilakukan peserta didik di luar jam pelajaran sekolah atau selama peserta didik masih berada di sekolah. Apabila selama berada di lingkungan sekolah, peserta didik dapat saja mengakses websites yang ditugaskan guru di lab komputer. Peserta didik akan merasa lebih leluasa melaksanakan tugas yang diberikan guru apabila ada jam pelajaran kosong. Atau, setidak-tidaknya ada satu jam pelajaran yang diperuntukkan guru kepada peserta didik untuk mengakses websites dan mendiskusikan materinya. Tentunya akan lebih baik lagi apabila peserta didik melaksanakan tugas di luar jam pelajaran sekolah. Sebagai contoh adalah guru yang akan memanfaatkan media CD atau VCD dalam kegiatan pembelajaran. Setelah mempelajari materi yang dikandung di dalam CD/VCD, maka guru tahu persis kapan materi tersebut akan dibahas bersama peserta didiknya. Dalam kaitan ini, guru tentunya dituntut untuk membuat perencanaan pemanfaatannya. Berbagai topik program media yang terdapat di dalam media CD/VCD telah terlebih dahulu dipelajari guru sehingga dapat diintegrasikan dengan jadwal pelajaran sekolah, baik mengenai harinya maupun waktunya. Dengan adanya perencanaan ini, maka peserta didik dapat dikondisikan agar peserta didik mempersiapkan dirinya dan fasilitas yang mereka perlukan sebelum kegiatan pemanfaatan media dilakukan. Demikian juga halnya dengan kesiapan guru itu sendiri, baik dalam mempelajari materi pelajaran yang dikemas di dalam media CD atau VCD maupun dalam mempersiapkan fasilitas yang dibutuhkan guru. (Siahaan, 2008) f. Berdasarkan Ketersediaan waktu dalam pembelajaran (menyangkut kedalaman dan keluasan bahan kajian atau pembelajaran) g. Berdasarkan Fasilitas lain pendukung proses pembelajaran (laboratorium, teknologi digital, teknologi lain) Sebenarnya internet bisa jadi sumber belajar alternatif yang cukup efektif dan efisien. Selama ini, yang umum dikenal sebagai sumber belajar adalah buku dan guru. Padahal, semakin lama sumber belajar tradisional ini semakin terbatas, baik jumlah maupun distribusi. Dalam hal ini internet bisa jadi substitusi yang sifatnya lebih untuk melengkapi, bukan menggantikan peran guru secara keseluruhan Pemanfaatan sumber belajar menggunakan alat bantu berbasis teknologi dengan media elektronik saat ini sangat umum digunakan di dunia pendidikan. Misalnya, penyebaran ilmu pengetahuan melalui pemutaran sebuah program pelajaran atau film edukasi dari sebuah kaset video atau keping cakram video, juga penggunaan media audio seperti kaset, hingga penggunaan media proyeksi dengan alat bantu komputer. Kesemua media ini sebenarnya berfungsi hampir sama dengan buku, yakni program yang diputar sesuai kebutuhan. Bedanya, visualisasi pada buku sangat kurang dan tidak semenarik jika dibandingkan visualisasi yang ditampilkan media elektronik. Paling mutakhir, media komputer berbasis internet menjadi sumber belajar acuan yang cukup digemari sekarang ini. Selain berfungsi sebagai sumber informasi melalui situs-situs yang menyediakan beragam materi, internet adalah media diskusi ilmiah online. Dengan internet, diskusi yang diadakan dapat berlangsung kapan saja dan oleh siapa saja yang tidak berada dalam satu lokasi. Internet dan pendidikan Di Indonesia, jumlah siswa dari seluruh jenjang pendidikan saat ini lebih kurang 52 juta orang. Pembelajaran berlangsung dengan bantuan sekitar 3,5 juta guru dan dosen. Rasio total guru dan murid adalah 1 guru untuk 15 siswa, tergolong ideal untuk terjadinya sebuah proses pembelajaran yang efektif dan efisien di kelas. Meski demikian, jika ditelaah daerah per daerah, angka ideal ini tidak merata. Di beberapa provinsi, kondisi kekurangan guru masih banyak terjadi dengan rasio guru dan murid yang cukup tinggi. Misalnya di DKI Jakarta, Jawa Barat, atau Banten yang memiliki rasio di atas 1 berbanding 20 untuk jenjang SD. Saat ini jumlah perpustakaan umum sekitar 2.500 unit. Persebaran yang tidak merata dan koleksi buku yang terbatas menjadi salah satu permasalahan perpustakaan di Indonesia. Perpustakaan sekolah pun belum mampu mencapai rasio ideal 1:1 atau satu buku untuk satu siswa. Padahal, untuk memiliki buku dengan cara membeli masih menjadi beban bagi siswa. Jika keterbatasan akan sumber belajar tradisional menjadi kendala pemerataan kualitas pendidikan, sumber referensi pengetahuan lain harus dicari. Untuk masa ini, internet bisa jadi jawaban alternatif bagi sumber belajar siswa. Kendala jarak, waktu, dan lokasi telah dinihilkan dengan adanya internet. Selain itu, keragaman jenis informasi yang terdapat di dalamnya kadang melebihi pengetahuan seorang guru atau buku. Akan halnya biaya, pemerintah seharusnya bersedia mengalokasikan dana untuk memasang minimal satu komputer yang memiliki jaringan internet di tiap sekolah. Saat ini di kebanyakan sekolah berlabel plus sudah mulai mewajibkan komputer berbasis internet sebagai salah satu fasilitas meski belum tersedia di setiap kelas. Namun, sayang, untuk kondisi nasional, jangankan fasilitas komputer, perpustakaan konvensional pun belum bisa ditemukan di seluruh sekolah di Indonesia. Jika keberadaan ruang komputer saja masih sulit ditemukan di tiap sekolah, jangan harap bisa menghadirkan jaringan internet di dalam sekolah saat ini. Siswa di Indonesia tampaknya masih harus bersabar untuk dapat melek informasi secara cepat dan mudah. (Palupi, 2009) Keistimewaan pemakaian komputer dalam proses pembelajaran (Muhamad Ikhsan, 2006) : 1. Komputer bisa mengajar secara individual (individualisasi dalam proses pembelajaran) kecepatan bisa sesuaikan dengan kemampuan siswa, metode/strategi belajar yang lebih tepat, penyesuaian isi materi dan tingkat kesukaran. 2. Bisa digunakan kapan saja (tidak terbatas waktu) dan bisa digunakan dimana saja (tidak terbatas ruang). 3. Hilangkan rasa malu takut. Adapun bentuk-bentuk penerapan aplikasi CAI (Computer Assisted Instruction) dalam pembelajaran sebagai berikut (Heinich,et:al, 1996): 4.) Mindtools Mindtools alat bantu belajar yang menyediakan sejumlah fasilitas atau fungsi yang dapat dipakai untuk digunakan siswa dalam memfungsikan cara berpikirnya sehingga dapat optimal. Lingkungan pembelajaran yang disajikan pada siswa bukan berpatokan pada membuat siswa menurut saja pada struktur materi yang sudah dirancang alurnya oleh programmer, akan tetapi justru hanya memberikan sejumlah fasilitas atau alat (tools) untuk digunakan siswa dalam ia mengambil dan merancang alur belajarnya sendiri. Kontrol penuh ada di tangan siswa (learner control) dalam ia menentukan baik tujuan yang ingin dicapai, materi yang dipelajari, maupun tingkat kedalaman pemahaman yang ingin diraih. dan akan lebih memotivasi siswa untuk belajar karena ia dapat sesuaikan dengan kebutuhannya. Guru disini berperan sebagai fasilitator, model, dan pelatih (coach). Berangkat dari asumsi dasar bahwa siswa itu mempunyai perbedaan dalam daya tangkap, lingkup pengetahuan yang sudah dimiliki (prior knowledge), keterampilan belajar, minat, maupun motivasi untuk belajar. Belajar yang dalam (deep learning) menuntut siswa menggunakan teknik/strategi berpikir yang sistematis dan terencana, tajam daya analisanya, kritis, kreatif, dan memiliki ketrampilan memecahkan masalah (problem solving) yang baik. Keterampilan berfikir (ketrampilan belajar) adalah ketrampilan yang harus dengan sengaja dipelajari, bukan bersifat bawaan lahir (seperti halnya inteligensi). Keterampilan belajar inilah yang menjadikannya self-regulated (directed) learner. h. Berdasarkan Sistem dan proses evaluasi pembelajarannya (secara manual, teknologi bantu, dst.) Asesmen (assessment) adalah seluruh proses untuk mengumpulkan informasi terkait dengan kemajuan proses dan hasil belajar siswa. Dengan demikian, tes (test) termasuk instrumen asesmen. Panduan pengamatan atau wawancara untuk melihat bagaimana kemampuan siswa berbahasa lisan juga termasuk instrumen asesmen. Rambu-rambu menulis karya ilmiah untuk mendorong dan memandu siswa praktik menulis karya ilmiah juga termasuk instrumen asesmen. Petunjuk dan kerangka karangan yang disediakan untuk membantu siswa berproses menghasilkan tulisan atau karangan juga termasuk instrumen asesmen. Pelaksanaan berbagai jenis tes atau nontes termasuk wilayah asesmen, yakni bagian dari proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui kemajuan proses dan hasil belajar. Lembar jawaban siswa, catatan pengamatan, rekaman hasil wawacara, karya ilmiah yang dihasilkan siswa atau bentuk tulisan lain yang dihasilkan siswa akan dibaca dan dicermati guru dan pada akhirnya diberi skor. Proses memberi skor terhadap hasil tes, hasil menulis ilmiah atau kegiatan menulis lainnya, atau proses memberi skor terhadap hasil pengamatan atau wawancara semua itu termasuk kegiatan pengukuran (measurement). Untuk melakukan pengukuran, guru perlu menyiapkan kunci jawaban, rambu-rambu jawaban, rubrik pengukuran tulisan, atau instrumen pembantu lainnya. Dalam rentang waktu tertentu, misalnya satu semester, siswa mempunyai kumpulan skor. Ada skor yang diperoleh melalui tes (pilihan ganda atau bentuk lainnya), dan ada pula skor yang diperoleh dari karangan atau tulisan. Mungkin ada pula skor yang dihasilkan dari catatan atau rekaman guru dalam proses belajar-mengajar sehari, misalnya kemampuan siswa dalam mengajukan atau menjawab pertanyaan. Siswa juga masih memiliki skor hasil pengerjaan tugas-tugas harian. Semua skor tadi kemudian diolah dengan menggunakan rumus tertentu untuk menentukan nilai akhir semester. Proses menentukan nilai akhir siswa dengan memanfaatkan rumus tertentu dari skor-skor yang diperoleh siswa itulah yang disebut penilaian (evaluation3). Sampai di sini siswa telah memperoleh nilai akhir semester yang biasanya dicantumkan dalam buku laporan pendidikan. Setelah mengetahui nilai akhir semua siswanya, guru merenung. Dalam perenungan itu, dalam pikiran guru timbul beberapa pertanyaan, misalnya: saya sudah berusaha keras, mengapa sebagian besar siswanya hanya memperoleh nilai akhir rata-rata 7? Padahal saya tidak pernah kosong, saya juga bersungguh-sungguh dalam mengajar dan semua pekerjaan juga saya koreksi dan saya kembalikan, mengapa hasil belajar siswa juga belum memuaskan? Mengapa semua itu terjadi? Untuk waktu yang akan datang, langkah apa yang sebaiknya saya lakukan? Perlukah saya mengubah cara penyajian pembelajaran? Perlukah saya memberi jam pelajaran tambahan? Atau perlukah saya mengedril siswa pada saat menjelang ujian semesteran? Seluruh pertanyaan yang muncul dalam diri guru selama kegiatan perenungan itu semua termasuk contoh kegiatan evaluasi pembelajaran (evaluation4). Asesmen, tes, pengukuran, penilaian, dan evaluasi (ATPPE) harus dipahami secara benar dan digunakan secara tepat. ATPPE dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir, berbahasa, dan bersastra secara optimal. ATPPE harus dilaksanakan secara konsisten sesuai dengan kompetensi yang harus dimiliki siswa dan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Penilaian berbasis kelas dan asesmen otentik merupakan modus yang paling tepat untuk mengetahui kemajuan proses dan hasil pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dalam silabus, hanya disebut teknik, bentuk instrumen, dan contoh instrumen asesmen, tetapi dalam RPP semua instrumen harus disiapkan dan bahkan kunci jawaban, rambu-rambu jawaban, atau rubrik penilaian yang diperlukan juga harus disediakan. (Suyono,2008) 6. PENUTUP Kelancaran dan efektivitas pembelajaran antara lain didukung oleh kehadiran alat bantu/media/sumber belajar yang tersedia. Ketersediaan alat bantu/media/sumber belajar memungkinkan siswa dapat belajar lebih baik, lebih intensif, dan lebih banyak potensi yang dapat dikembangkan. Oleh karena itu, alat bantu/media/sumber belajar perlu dihadirkan dengan tepat. Lebih lanjut, alat bantu/media/sumber belajar perlu dimanfaatkan secara sinergis untuk mengoptimalkan pembelajaran. Dengan adanya media/alat bantu pembelajaran semakin memudahkan guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Sehingga dapat menciptakan kondisi yang dapat mendorong siswa agar dapat mencapai kompetensinya dalam pembelajaran yang diberikan oleh guru. DAFTAR PUSTAKA Adimphrana, Kwarta. 2008. Strategi Pengembangan Pembelajaran Berbasis TIK. Diakses tanggal 1 Desember 2009 dari http://www.e-dukasi.net/artikel/index.php?id=85 Akbar, Mugi.2009. Dampak Teknologi Komputerisasi Bagi Warga Sekolah. Diakses tanggal 1 Desember 2009 dari http://mugiakbar.blog.upi.edu/2009/06/25/tugas-1/ Astuti, Palupi Panca. 2009. Internet dan Kebutuhan Sumber Belajar Alternatif. diakses tanggal 13 September 2009 dari http://www.maindexchange.com/index.php?option=com.content& task=view&id=41&Itemid=39 Goeroendeso. 2009. Peranan Media Pembelajaran. Diakses tanggal 1 Desember 2009 dari http://goeroendeso.wordpress.com/2009/ 02/07/peranan-media-pembelajaran/ Hamid, Abdul. 2009. Pembelajaran Melalui Pakem. Diakses tanggal 1 Desember 2009. Dari pusdiklatteknis.depag.go.id/ download/jurnal10.doc Hendrawan, Iwan. 2009. Buku Panduan Sebagai Sumber Belajar dengan Metode Program Instruksional diakses tanggal 13 September 2009 dari http://purwanto.web.id/?p=141 MGMP IPS Cimahi. 2007. Sumber Bahan Ajar. Diakses tanggal 1 Desember 2009. Dari http://mgmpips.wordpress.com/ 2007/03/24/sumber-bahan-ajar/ Notoatmojo. 2006. Alat Bantu Pendidikan. Diakses tanggal 17 Oktober 2009. Dari http://www.geocities.com/ klinikikm/pendidikan-perilaku/alat-bantu.htm Prihatiningsih, Eka Ana. 2009. Penggunaan Media sebgai Sumber Belajar. diakses tanggal 13 September 2009 dari http://students.blog.unnes.ac.id/ 4n43k4/2009/05/06/penggunaan-media-sebagai-sumber-belajar/ Putranti, Nurita. 2007. Komputer Sebagai Alat Bantu Pembelajaran. Diakses tanggal 1 Desember 2009 dari http://nuritaputranti.wordpress.com/2007/08/23/komputer-sebagai-alat-bantu-pembelajaran/ Sartono, 2009. Pemanfaatan Media Berbasis ICT Terhadap Pembelajaran di Sekolah diakses tanggal 13 September 2009 dari http://abushofy. blogspot.com/2009/08/pemanfaatan-media-berbasis-ict-terhadap.html Siahaan, Sudirman. 2008. Tips Bagi Guru dalam Memanfaatkan Media TIK untuk Pembelajaran. diakses tanggal 13 September 2009 dari http://www.e-dukasi.net/artikel/index.php?id=77 Subrata, Heru. 2009. Pengembangan Perangkat Pembelajaran. Diakses tanggal 2 Desember 2009 dari http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/12/pengembangan-perangkat-pembelajaran.html Suedi. 2009. Media Pembelajaran, Alat Peraga dan Alat Bantu Belajar. diakses tanggal 13 September 2009 dari http://suediguru.blogspot.com/ 2009/06/media-pembelajaran-alat-peraga-dan-alat.html Suherman, Erman. 2008. Model Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Kompetensi Siswa. Diakses tanggal 14 September 2009 dari http://pkab.wordpress.com/2008/04/29/model-belajar-dan-pembelajaran-berorientasi-kompetensi-siswa/ Suyono. 2008. Siasat Perencanaan Pembelajaran. diakses tanggal 13 September 2009 dari http://suyono.com/2008/02/siasat-perencanaan-pembelajaran/ UPI. 2009. Hakikat Media Dalam Pembelajaran. Diakses tanggal 13 September 2009 dari kurtek.upi.edu/media/sources/1-hakikat%20media.pdf – Wahidin. 2008. Penggunaan Media Sumber Belajar dalam Proses Belajar Mengajar. diakses tanggal 13 September 2009 dari Error! Hyperlink reference not valid.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 4 Desember 2009 in Pendidikan

 

3 responses to “MEDIA (alat bantu) PEMBELAJARAN

  1. Karatika Eka Okirianti

    10 November 2010 at 6:31 am

    Dari segi isi menurut saya bagus, cuma…mungkin kalau dari segi atau teknik share-nya (penampilannya) dibenahi akan jauh lebih menarik. Coz, jika semua tulisan diposting tanpa jeda antara paragraf satu dengan yg lainnya…bisa membuat pembaca akan meninggalkan postingan anda sejak wal paragraf…

    Terlepas dari itu semua,,terima kasih ya infonya… Lam kenal.. :’)

     
    • dwikurniasaputro

      11 Mei 2011 at 1:56 am

      makasiiiiiiiiiiiiiiih buanget

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: